Rabu, 30 Maret 2016

Kedisiplinan: Kunci Membuka Gerbang Dunia

Diposting oleh Unknown di 16.35 3 komentar

sumber gambar: google.co.id

Berbicara tentang bagaimana seorang dapat sukses dan menjadi sosok orang yang diperhitungkan dalam berbagai angel kehidupan, tak terlepas dari bagaimana seorang itu dalam kehidupannya sehari-hari. Bagaimana dia bersikap, bertingkah laku dan bagaimana kesehariannya.
Dan sosok orang yang diperhitungkan tak lepas dari yang namanya kerja keras, berdo’a dan usaha, pantang menyerah serta menjadi sosok yang disiplin. Ya, keempat rangkaian suku kata itu sering kita dengar sebelumnya, dimana bahwa sungguh besar pengaruh dari empat sifat itu. Sesungguhnya empat sifat itulah yang  mengantarkan seseorang menuju gerbang kesuksesan. Dan kata kunci yang paling utama sesungguhnya sebuah kedisiplinan. Jika seorang memiliki tingat disiplin baik tentu dia juga akan memiliki etos kerja yang tinggi, selalu berusaha dan pantang menyerah. Pernahkan ada sorang yang sukses hanya dengan kerja keras tanpa sebuah kedisiplinan? Atau sebuah kesusksesan yang hanya datang dari berdo’a tanpa usaha dan disiplin dalam mengerjakan dan melakukan sesuatu? Tentu tidak pernah bukan.
Sesungguhnya lebih banyak yang mengatakan bahwa kerja keraslah yang mengantarkan kepada kesuksesan dan menjadi kunci untuk membuka setiap gerbang kesuksesan itu. Namun kerja keras tanpa disiplin itu tidak akan ada hasilnya. Dalam hal disiplin, seseorang itu perlu melatih dan tidak mudah untuk menjadi sosok disiplin, kerja keras tanpa kedisiplinan pun tidak akan banyak mempengaruhi sebuah kesuksesan. Contohnya saja, apa ada sosok yang menjadi sukses dengan seorang itu tidak dapat bagung pagi, menempatkan diri sesuai aturan dan melakukan pekerjaan hanya dengan kerja tanpa mentaati aturan yang ada? Tentu tidak bukan. Jika seseorang sudah tidak mentaati aturan tentu akan susah dipercaya orang dan menjadi sosok yang bisa dikatakan pemalas. Pengusaha besar saja bangun pagi untuk bekerja, apa lagi seorang petani dan guru sekali pun.
Begitu besar pengarus kedisiplinan diri itu terhadap kehidupan. Seperti di sekolah, adanya aturan untuk masuk dan memulai pelajar pukul 07.15 merupkan aturan yang harus ditaati oleh setiap siswa. Disini dapat dilihat bahwa seorang murid akan bangun pagi dan tentunya bersiap berangkat sekolah sebelum waktu masuk, terlepas dari sejauh mana rumah dan apa yang dikerjakan sebelum berangkat sekolah. Misalkan siswa SMA yang harus membantu orangtua membersihkan rumah, tentu akan bangun lebih awal agar dapat mengejar waktu sebelum jam masuk, itu salah satu ciri sosok yang akan sukses nantinya.
Seperti salah satu sosok yang patut dikagumi dari sebuah buku bacaan: “Bunda Lisa Karya Jombang Santani”. Sosok Bunda Lisa memberikan begitu besar inspirasi terhadap kehidupan, dimana bunda Lisa  merupakan sosok yang kuat dan memiliki kedisiplinan tinggi. Lalu siapa yang tidak kenal sosok Rhenald Kasali. Seorang guru besar yang sukses di bidangnya. Jika melihat dan mencari tau tentang beliau sungguh akan banyak yang dapat ditemukan sikap disiplin yang mereka terapkan. Sedikit gambaran kehidupan dari Sosok Bunda Lisa yang selalu mendukung dan membantu sang suami, Rhenald Kasali dalam menggapai mimpinya. Kerja keras dan kedisiplinan akhirnya mengantarkan mereka pada kehidupan yang lebih baik. Dimana adanya kedisiplinan dalam kehidupan serta kerja keras itu sendiri. Melihat bagaimana Bunda Lisa saat mengikuti suami S3 jika tidak salah ingat, beliau ikut ke Ilinois (menyusul) dimana saat itu telah lahir Jordan akan pertama mereka.
Hidup di luar negeri itu tidaklah gamapak, dalam novel itu akan banyak ditemukan gambaran tentang kesungguhan dan kedisiplinan yang tinggi dari sosok Bunda Lisa, yang mampu membagi waktunya untuk mengurus pekerjaannya dan keluarga seprti sebuah jadwal. Saat harus bangun pagi menyiapkan sarapan dan menyiapkan kebutuhan suami yang akan berangkat kuliah, lalu melanjutkan kepada pekerjaan rumah yang sudah menjadi tanggungan, serta menyiapkan keperluan Jordan kecil. Lalu setelah pukul delapan, Bunda Lisa menjemput anak-anak yang beliau asuh dan sekaligus menjaga Jordan kecil—saat itu bunda Lisa kerja sebagai pengasuh anak-anak di kos-kosan mereka. Hingga saat ini, ketika Beliau akhirnya memiliki penghidupan yang lebih layak dari dulu, beliau tetap disiplin dan terus melakukan pekerjaan seperti itu, bangun pagi dan mengerjakan apa yang beliau bisa sebelum akhirnya sarapan bersama dan pergi mengajar, setelah malam sebelumnya beliau telah menyiapkan berkas-berkas sang suami dan menyelesaikannya pekerjaannya sebagai pemimpin dari sebuah Taman kanak-kanak “Kutilang” namanya.
Sungguh dari cerita itu banyak yang dapat ditemukan sikap disiplin dari sang Bunda Lisa. Lihatlah dari berbagai sudut pandang tentang bagaimana sosok sukses yang ada di sekitar. Karena kesuksesan itu tak kan terlepas dari kedisiplinan milik sosok itu sendiri. Disinilah dapat dilihat bahwa kerja keras tanpa disiplin tidak ada artinya, dan kedisiplinan tanpa kerja keras pun tak akan ada artinya. Sama seperti menuntut ilmu. Jika tidak disiplin akan banyak pelajaran yang hanya menjadi pelajar membosankan. Dan dalam menuntut ilmu tentu lebih banyak lagi aturan yang ada, jika tidak dapat disiplinkan diri tentunya akan susuah sendiri dan kunci membuka gerbang menuju kesuksesan dunia itu hanya ilusi. Karena disiplinlah kuncinya.

Rabu, 23 Maret 2016

Pendidikan: Bukan Untuk Memotong Sayap Anak

Diposting oleh Unknown di 18.39 0 komentar


Pendidikan merupakan tonggak dari kehidupan, dimana pendidikan bukan hanya tentang pendidikan formal. Namun ada pula pendidikan non formal serta informal. Pendidikan bukan hanya berbicara tentang apa yang dipelajari oleh peserta didik, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan serta cita-cita dari guru, sekolah dan orang tua. Pendidikan juga harus mengikutsertakan anak untuk memilih pembelajaran yang tepat, yang disukai dan menjadi minat dari peserta didik, karena tidak dapat kita pungkiri bagaimana proses perkembangan psikologi anak dengan proses pembelajaran dan interaksi lingkungan.
Kecerdasan yang dimiliki oleh anak sangatlah berbeda-beda, beda anak beda pula jenis kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki. Karena manusia adalah makhluk yang unik, dengan begitu banyak hal menakjubkan yang disimpannya. Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.—kompas.com
Seperti yang saya kutip dari kompas.com, Howard membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).
Maka dari sini kita dapat melihat bahwa anak tidak harus mengikuti apa kemauan dari orangtua semata. Karena mereka berbeda kemampuan dan kecerdasan, mereka berhak untuk memilih dan mempelajari, memperdalam serta mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Namun banyak anak yang akhirnya menjadi korban dari keinginan orang tua, dimana anaka belajar sesuai keinginan dan cita-cita orangtuanya. Memang setiap orang tua memilihkan yang terbaik untuk anak agar kelak dimasa depan, mereka mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik daripada kedua orang tuanya. Kita memang tidak dapat menyalahkan orang tuan yang menginginkan anaknya untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang hebat dan sukses. Namun, disatu sisi, mereka lupa tentang bagaimana perkembangan anak dengan pembelajarannya, ini bukan hanya tetang anak balita, tetapi banyak juga pemaksaan pemilihan jurusan di jenjang atas yang sebenarnya itu menganggu prestasi anak. Misalkan di jenjang SMA anak diminta memilih jurusan IPA agar menjadi seorang Dokter, namun sebenarnya anak tersebut memiliki cita-cita menjadi seorang akuntan yang seharusnya masuk ke dalam jurusan IPS. Memang seiring berjalannya waktu mereka akan mengerti dan menerima, tapi bagaimana dengan yang tidak mengerti dan malah menjadikan pendidikannya adalah beban? Tentu itu akan mempengaruhi prestasi yang dia miliki bukan? Dan tanpa disadari, orangtua sudah memotong sayap anaknya sendiri.
Terkait semua itu, sebenarnya bukan hanya sekolah, tetapi orangtua juga harus ikut berperan aktif pada tumbuh kembang dan prestasi belajar anak bukan hanya terletak pada pemahaman yang diberikan oleh guru di sekolah saja, melainkan keikutsertaan orangtua dalam hal pengontrolan pembelajaran akan mendongkrak daripada prestasi belajar anak. Dimana anak akan merasa dipedulikan dan merasa didukung dengan apa yang mereka kerjaakan. Hingga menjadi pendorong anak untuk melakukan yang terbaik dan mendapatkan prestasi yang lebih baik.
Karena anak akan lebih aktif jika diperhatikan. Berbicara tentang pendidikan anak dan perkembangan pendidikan memang tak akan ada habisnya, mengingat bahwa akan selalu terjadinya perkembangan baik dalam media, lingkungan serta kebutuhan yang semakin luas. generasi seterusnya akan menjadi tonggak kehidupan negeri ini, yang akan memabawa negeri ini terbang hingga krtingkat tinggi adalah gernerasi mudanya, sehingga tak ada alas an mematahkan sayap yang mereka miliki dan yang telah mereka latih untuk terbang dan menggapai keinginnanya. Bukan sekedar menjadi yang terbaik, anak akan menjadi yang terhebat jika memang kemampuan mereka diasah serta dikembangkan sesuai karakter mereka masing-masing.

Kamis, 17 Maret 2016

HARI BUMI: Warisan untuk anak cucu. Masih layakkah?

Diposting oleh Unknown di 20.14 0 komentar




Hari bumi tinggal satu bulan lagi, namun permaslahan bumi itu begitu banya. Membicarakan tentang bumi dan kehidupan tak akan ada habisnya. Berbicara tentang bagaimana perkembangan bumi dan lingkungan setiap tahun dan tiap abad. Selalu ada babak dimana ada perkembangan dan pemerosotan dari kehidupan dan alam. Kehidupan di bumi setiap tahunnya terasa berubah. Bukan hanya perubahan iklimnya, namun perubahan bentuk lingkungannya sangat terlihat. Sayang, isu tentang alam, perubahan lingkungan dan kondisi bumi terkesampingkan ketika isu tentang kehidupan secara social —politik negeri, korupsi, terorisme, krisis ekonomi, kerisis sumber daya manusia— meraja di berbagai media massa. Jika kita selidiki, memang tidak sedikit organisasi yang memiliki visi misi menjaga bumi dan kehidupan di dalamnya. Namun hal yang sedikit ini kalah oleh hal yang lebih besar dan banyak.
Bumi: Kehidupan, alam, dan lingkungan bagaikan sebuah system yang tak dapat terpisahkan. Karena ada keterkaitan dari setiap unsur yang ada. Seperti pertumbuhan pohon, pohon membutuhkan lingkungan yang baik. Kondisi alam —menentukan jenis tanaman pohon apa yang akan tumbuh—,  nutrisi dan air yang cukup. Lalu udara (CO2) dan matahari menjadi sumber makanan bagi sang pohon dan akhirnya menghasilkan Oksigen (O2).  O2 bermanfaat untuk kehidupan berbagai jenis makhluk hidup – manusia serta binatang.
Makhluk yang paling memengaruhi kondisi bumi dan lingkungan adalah manusia. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusialah yang mengancam terjadinya kekacauan di muka bumi, oleh keserakahan dan kesombonganya. Menebangi hutan dan mengancam ekosistem, memburu binatang secara membabibuta. Membuat ketimpangan akhirnya terjadi. Kematian dari beberapa jenis flora dan fauna dikarenakan terpotongnya rantai makan oleh pedang keserakahan manusia. Karena sebenarnya rantai makanan yang terjadi secara alamiah dalam dunia binatang dan tumbuhan memberikan efek (dampak) yang sangat besar bagi kehidupan dan manusia. Lupakah bahwa manusia dapat hidup dari berbagai makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Jika ditilik tumbuhan dan hewan ini juga membutuhkan makanan yang jika di lihat siklus rantai makanannya akan sangat panjang. Dari situlah kita dapat melihat bahwa sebuah kehidupan itu bukan hanya berbicara tetang makhluk yang dapat terlihat saja. Maka  ketika salah satunya terpotong, pincanglah proses kehidupan, yang perlahan namun pasti serta sedikit demi sedikit hancur dan lenyaplah semuanya termasuk manusia—karena adanya hubungan simbiosis.
Berbicara tentang isu lingkungan dan bumi hanya berlaku ketika hari-hari seremonial itu datang. Seperti hari air sedunia (22 Maret), hari hutan Sedunia (21 Maret), hari Bumi (22 April). Seperti pernyataan sebelumnya, saya mengatakan bahwa tidak sedikit organisasi berhaluan untuk menyelamatkan bumi. Namun, apakah iya itu untuk menyelamatkan bumi? Atau malah sebaliknya apa yang mereka lakukan untuk menyelamatkan diri sendiri dari kerusakan bumi?
Jika kita melihat himbauan jangan buang sampah sembarangan, jangan menebang pohon sembarangan – penebangan hutan illegal. Menurutku itu bukan hanya untuk bumi, bukan untuk melindungi bumi, namun untuk melindungi manusia dari kebanjiran jika terjadi hujan dan menghindarkan timbulnya bibit-bibit penyakit ketika air dan sampah menggenang. Lalu jangan menebangi pepohonan, itu bukan menyelamatkan bumi namun menyelamatkan makhluk hidupnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pepohonan menghasilkan O2 yang berfungsi untuk makhluk hidup bukan.
Alih-alih menyelamatkan bumi, saya rasa kita lebih banyak menyelamatkan diri sendiri. Saya mengatakan hal demikian mengingat himbauan itu di sana sini. Memang bumi terselamatkan, tetapi yang lebih terselamatkan lagi adalah kehidupan manusianya. Saya tidak bilang bahwa himbauan seperti itu bukan untuk menyelamatkan bumi, namun jika menilik kita dapat menyimpulkan bahwa semua himbauan itu untuk melestarikan dan menyelamatkan kehidupan. Bukan bumi, karena bumi selalu seperti ini, masih bulat dan ada laut serta daratannya. Meski memang berbeda.
Dan saat ini, seharusnya kita menyusun strategi dan rencana untuk jaga bumi dan menjaga kehidupan ini. Karena bumi adalah tempat bernaungnya segala makhluk hidup. Tanpa bumi tentu kita tak akan hidup, apakah ada planet yang benar-benar mirip dengan bumi, yang teduh dan member kehidupan. Meski ada, mungkin tak sempurnya, tak seperti bumi ini. Bayangkan bumi itu tak lagi indah dan meneduhkan. Tak ada lagi kehidupan, gersang dan tak ada kehidupan. Karena saya merasa bahwa kita adalah pewaris untuk mereka yang akan hidup di masa depan. Apakah kita akan mewariskan harta yang rusak kepada anak cucu kita nanti. Bumi yang tak pantas untuk ditinggali. Sumber daya alam yang tidak ada lagi—habis dikeruk dari generasi kegenerasi.
Karena saya meyakini bahwa ada titik dimana semua teknologi dan penemuan itu tidak akan berfungsi. Dimana semua hanya akan menjadi kerangka tanpa nyawa. Maka, sebelum bumi dan kehidupan ini semakin bobrok dan hancur, maka mulailah dari diri kita sendiri. Menjaga lingkungan dengan baik, tidak membuang sampah semabarangan, mematikan lampu jika tak digunakan dan menjaga kesehatan hidup. Saling menginatkan untuk tidak membuang-buang energi dan menghabiskan sumber daya seperti minyak dan hasil hasil laut. Menjaga kondisi alam dan hutan. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Awali dengan hidup sehat dan berubahlah dari sekarang.
Jagalah bumi dari hal terkecil, jangan membuang air dan energi.
 

Goresan kata © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor