Pendidikan
merupakan tonggak dari kehidupan, dimana pendidikan bukan hanya tentang
pendidikan formal. Namun ada pula pendidikan non formal serta informal.
Pendidikan bukan hanya berbicara tentang apa yang dipelajari oleh peserta
didik, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan serta cita-cita dari guru,
sekolah dan orang tua. Pendidikan juga harus mengikutsertakan anak untuk
memilih pembelajaran yang tepat, yang disukai dan menjadi minat dari peserta
didik, karena tidak dapat kita pungkiri bagaimana proses perkembangan psikologi
anak dengan proses pembelajaran dan interaksi lingkungan.
Kecerdasan
yang dimiliki oleh anak sangatlah berbeda-beda, beda anak beda pula jenis
kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki. Karena manusia adalah makhluk yang
unik, dengan begitu banyak hal menakjubkan yang disimpannya. Thomas Armstrong
mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple
Intelligences atau kecerdasan multipel.—kompas.com
Seperti
yang saya kutip dari kompas.com, Howard membaginya menjadi delapan jenis
kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik),
number smart (kecerdasan logika atau matematis), self
smart (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan
interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture
smart (kecerdasan spasial), body smart
(kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan
naturalis).
Maka
dari sini kita dapat melihat bahwa anak tidak harus mengikuti apa kemauan dari orangtua
semata. Karena mereka berbeda kemampuan dan kecerdasan, mereka berhak untuk
memilih dan mempelajari, memperdalam serta mengembangkan kemampuan yang mereka
miliki. Namun banyak anak yang akhirnya menjadi korban dari keinginan orang
tua, dimana anaka belajar sesuai keinginan dan cita-cita orangtuanya. Memang
setiap orang tua memilihkan yang terbaik untuk anak agar kelak dimasa depan,
mereka mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik daripada kedua orang
tuanya. Kita memang tidak dapat menyalahkan orang tuan yang menginginkan
anaknya untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang hebat dan sukses. Namun,
disatu sisi, mereka lupa tentang bagaimana perkembangan anak dengan
pembelajarannya, ini bukan hanya tetang anak balita, tetapi banyak juga
pemaksaan pemilihan jurusan di jenjang atas yang sebenarnya itu menganggu
prestasi anak. Misalkan di jenjang SMA anak diminta memilih jurusan IPA agar
menjadi seorang Dokter, namun sebenarnya anak tersebut memiliki cita-cita
menjadi seorang akuntan yang seharusnya masuk ke dalam jurusan IPS. Memang
seiring berjalannya waktu mereka akan mengerti dan menerima, tapi bagaimana
dengan yang tidak mengerti dan malah menjadikan pendidikannya adalah beban?
Tentu itu akan mempengaruhi prestasi yang dia miliki bukan? Dan tanpa disadari,
orangtua sudah memotong sayap anaknya sendiri.
Terkait
semua itu, sebenarnya bukan hanya sekolah, tetapi orangtua juga harus ikut
berperan aktif pada tumbuh kembang dan prestasi belajar anak bukan hanya
terletak pada pemahaman yang diberikan oleh guru di sekolah saja, melainkan
keikutsertaan orangtua dalam hal pengontrolan pembelajaran akan mendongkrak
daripada prestasi belajar anak. Dimana anak akan merasa dipedulikan dan merasa
didukung dengan apa yang mereka kerjaakan. Hingga menjadi pendorong anak untuk
melakukan yang terbaik dan mendapatkan prestasi yang lebih baik.
Karena
anak akan lebih aktif jika diperhatikan. Berbicara tentang pendidikan anak dan
perkembangan pendidikan memang tak akan ada habisnya, mengingat bahwa akan
selalu terjadinya perkembangan baik dalam media, lingkungan serta kebutuhan
yang semakin luas. generasi seterusnya akan menjadi tonggak kehidupan negeri
ini, yang akan memabawa negeri ini terbang hingga krtingkat tinggi adalah
gernerasi mudanya, sehingga tak ada alas an mematahkan sayap yang mereka miliki
dan yang telah mereka latih untuk terbang dan menggapai keinginnanya. Bukan
sekedar menjadi yang terbaik, anak akan menjadi yang terhebat jika memang
kemampuan mereka diasah serta dikembangkan sesuai karakter mereka
masing-masing.
0 komentar:
Posting Komentar