Jumat, 29 April 2016

Multicultur Indonesia: Mangan Merangkat

Diposting oleh Unknown di 01.31
Keberagaman datang dari sebuah perbedaan. Indonesia merupakan sebuah contoh Negara dengan keberagaman yang begitu besar. Keberagaman budaya, bahasa, ras, suku dan agama. Namun perbedaan itu tidak menjadi halangan bagi sebuah persatuan.
Bukan hanya sekedar dari segi Negara, dilihat dari segi daerah kecil saja, keberagaman itu begitu terlihat. Misalkan saja dari daeran Nusa Tenggara Barat. Ada suku Sasak, Samawa dan Mbojo. Dari sini kita lihat kebudayaan dari segi pernikahan, ketiga suku yang ada di NTB ini memiliki ritual dan tradisi berbeda terkait dengan hal itu.
Dilihat dari ketiga suku ini hanya suku sasak yang melakukan pernikahan dengan cara merari’, atau melarikan anak orang. Dan dari merari’ ini terdapat satu acara unik lainnya, yakni Merangkat.

Rincian Acara
Dalam adat sasak, sebelum adanya acara begawe (acara syukuran), ada yang namanya adat merari’. Di daerah Desa Ubung Kecamatan Jonggat, jarang ada yang menikah dengan cara dilamar, tetapi kebanyakan keluarga menginginkan anaknya melakukan adat merari’. Karena memang sudah menjadi tradisi turun temurun, meski sudah banyak yang melakukan pernikahan melalui lamaran, tetapi orang Lombok Tengah di Desa Ubung sendiri menginginkan tetap adanya adat merari’ untuk awal dari sebuah pernikahan.
Merari’ secara harfiah berarti melarikan, jika dilihat dari tradisi, merari’ merupakan bentuk dari pernikahan dimana calon pengantin/mempelai perempuan dilarikan oleh calon mempelai laki-lakinya, dan dibawa ke rumah sang laki-laki atau bisa juga dibawa ke rumah kerabat dari mempelai laki-laki tersebut. Dalam waktu melarikan anak gadis juga ada waktunya, dimana melarikannya haruslah malam hari, jika dilarikan dari waktu siang atau sore hari, maka akan di denda oleh pihak perempuan melalui  kadus saat dilakukannya selabaran. Sebelum benar-benar merari’, mempelai perempuan haruslah berada di rumah jika memang dia tinggal di tempat lain (kos misalnya), ini sebagai pertanda bahwa dia memang diambil dari keluarganya.
Tradisi adat mangan merangakat memiliki makna syukuran atas datangnya calon pengantin perempuan di rumah calon pengantin laki-laki dalam bentuk mangan (makan-makan). Setelah sampai di rumah mempelai laki-laki, calon mempeli perempuan tidak langsung diberikan masuk ke dalam rumah sang laki-laki, tetapi terlebih dahulu harus mencuci kaki, yang menandakan dia datang dengan bersih ke rumah sang laki-laki. Dan setelah mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, tibalah waktunya keluarga mempelai laki-laki menyebarkan dan memanggil sanak keluarga dan kerabat serta tetang-tetangga untuk datang kerumah untuk ‘mangan merangkat’. Dalam acara ‘mangan merangkat’ ini, keluarga laki-laki mempersiapkan makanan untuk para tamu undangan dan khususnya sebuah aren untuk mempelai perempuan, dimana untuk tamu undangan sendiri makanan yang disajikan berupa ayam dan nasi, lalu khusus untuk mempelai perempuan selain diberikan ayam dan nasi, diberikan pula telur ayam rebus.
Disini perempuan diminta untuk notok telo’ (memecahkan telur) yang menandakan bahwa dia sudah suke mele merari’ (sudah beredia untuk menikah). Jika telur itu belum di pecahkan, berarti mempelai perempuan belum bersedia menikah. Tetapi kebanyakan memang mau untuk notok telo’.
Dalam kegitan merangkat ada istilahnya perkumpulan pemuda. Dimana perkumpulan pemuda ini seperti arisan, jika ada yang merangkat maka para pemuda yang lain akan datang membawa ayam untuk dipotong dan dimasak di malam merangkat tersebut. Sistemnya jika yang satu merangakat yang lain dantang memberi bantuan dan membawa ayam. Lalu jika ada yang merangakat lagi, orang yang sudah didatangi dan di bawakan ayam juga harus datang ke tempat pemuda yang merangakat selanjutnya. Jika ada 20 orang otomatis ada 19 kali datang  merangkat.
Sungguh beragam bentuk dari sebuah kebudayaan, namun dari setiap kebudayaan tentu akan mencerminkan sebuah nilai-nilai, seperti nilai ekonomis, nilai religi (kepercayaan), nilai social dan nilai pendidikan.  Pelestarian nilai-nilai ini bisa dilakukan melalui pendidikan kepada banyak orang melalui pengimplementasian dan pengajaran serta melalui pembinaan dan sosialisasi kepada khalayak banyak. Dalam dunia pendidikan, bisa dilakukan melalui pengajaran muatan local.
Sumber: Wawancara
Wawancara ini dilakukan di rumah anak dari narasumber di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Pada 20 April 2016, pukul 07:35 Pm.
Dimana sebagai narasubernya
Nama                : Selaye
Umur                : 59 Tahun
Tahun Lahir      : lahir tahun 1957
Alamat              : Gubuk Penantang Ai’, Dusun Punimbe, Desa Ubung Kecamatan Jonggat,
                            Kabupaten Lombok tengah.
Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga.


Wawancara dialkukan di rumah penulis sendiri dengan narasumber orang tua dari penulis.
Temapat          : Desa Ubung, Kecamatan Jonggat.
Pukul               : 05.12 Am
Dimana sebagai narasubernya
Nama                : Mayim
Umur                : 54 Tahun
Alamat              : Dusun Baterate, Desa Ubung Kecamatan Jonggat,
                            Kabupaten Lombok tengah.
Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga.


1 komentar:

Unknown on 8 Mei 2016 pukul 02.48 mengatakan...

bagus mau mempublikasikan budaya lokal lombok, tapi kayaknya dari segi makna merariknya masih kurang dalam..heee...mudahan makin maju..smangat

Posting Komentar

 

Goresan kata © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor