Kamis, 12 Mei 2016

Tugas system kebut Semalam

Diposting oleh Unknown di 20.29 0 komentar


Berbicara mengenai pendidikan, maka tak akan lepas dari pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik, serta tak lepas dari sebuah tugas. Ya, tugas merupakan salah satu dari pembelajaran, dimana tugas diberikan oleh guru kepada peserta didik. Pemberian tugas ini diberikan untuk  melihat kemampuan kognitif, afektif ataupun psikomotorik dari peserta didik. Dimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tugas merupakan yg wajib dikerjakan atau yg ditentukan untuk dilakukan; pekerjaan yg menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yg dibebankan. (KBBI offline1.5)
Dari sini sudah dapat dilihat bahwa tugas merupakan sebuah tanggung jawab dari peserta didik jika ditinjau dari pembelajaran. Penugasan ini memang baik untuk meningkatkan kemampuan dan tanggungjawab dari peserta didik, namun tanggungjawab ini dikerjakan dengan cara yang sedikit berbeda dari seharusnya.
Dalam pebelajaran, sebuah penugasan diberikan sesuai dengan tingkatan kelas, semakin tinggi kelas maka penugasannya akan sedikit semakin sulit. Penugasan dari tingkat TK sampai dengan jenjang perkuliahan berguna untuk membantu menumbuh kembangkan kemampuan peserta didik baik tentang bagaimana pengetahuanya dan rasa tanggungjawab yang dimilikinya jika itu merupakan tugas individu. Pemberian tugas ini juga ada yang secara kelompok. Di dalam kelompok tugas ini dibagi kembali, dimana tanggung jawab dan interaksi terjalin melalui diskusi kelompok.
Dalam penugasan, pengumpulan tugas diberikan tenggang waktu, mulai dari tenggang waktu 1 minggu hingga paling lama tergantung dari guru ataupun dosen yang memberkan tugas. Sehingga dalam pengerjaan tugas yang diberikan sebanyak 6 hari. Jadi tugas dapat dikerjakan d hari mana saja dalam waktu seminggu.
Namun pada kenyataannya, dalam pemberian tugas dan pengerjaannya, siswa hingga mahasiswa mengerjakannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Yah, sering disebut dengan Sistem Kebut Semalam(SKS). Dalam pengerjaan tugas, seharunya dan sewajarnya pengerjaan tugas dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu yang cukup banyak agar mengerjakan secara serius dan total.
Pengerjaan tugas secara SKS kini menjadi trend, apalagi dilkalangan mahasiswa. Dalam keseharian, tugas yang diberikan kepada mahasiswa memang selalu ada. Dalam satu matakuliah, maka disana ada tugas yang diberikan. Memang tidak semua matakuliah yang memberikan penugasan setiap kali pertemuan, namun ada beberapa matakuliah dan dosen yang memberikan tugas setiap kali pertemuannya. Sehingga tugas menjadi menupuk, begitulah yang dikatakan salah seorang mahasiswa.
Dari beberapa mahasiswa yan sempat dimintai pendapat terkait masalah pengerjaan tugas secara SKS ada beragam pendapat, ada yang menyetujui dan ada pula yang tidak menyetujui terkait pengerjaan tugas secara SKS. Sebagian yang menyetujui pengerjaan tugas secara SKS mengatakan bahwa “bukan karena tidak ada waktu, namun ada rasa malas”, “kalau jadi duluan, suka dipinjam”, “kebingungan dengan tugasnya”, ada juga yang berpendapat bahwa “karena entah kenapa otak itu lebih encer kalok kepepet dan makai sistem kebut semalem”, namun lebih banyak yang mengakatakan bahwa pengerjaan tugas secara SKS itu “memacu adrenalin, jadi otak muter cepet dan dapat idenya langsung”, :pas mempet, otak jadi kebuka”,  “seing banget SKS, serunya dapet, bakalan muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikan tugas. Urusan salah benar belakangan. Yang penting usaha kita untuk menyelesaikannya. Kalaupun slah, itu wajar, karena kita masih sama-sama belajar”.
Begitu beragam memang tanggapan mereka terkait pembenaran pengerjaan tugas dikerjakan secara SKS. Namun tak sedikit juga yang tidak membenarkan terkait pengerjaan tugas secara SKS ini, mereka berpendapat, “itu cirri-ciri orang malas”, “gak mau tugas jadi numpuk, orang yang SKS itu orang-orang malas dan gak teliti”. “terlalu menguras tenaga mengerjakan semalaman”, “hasilnya nanti gak memuaskan, jika mengerjakan secara langsung bukan SKS, hasilnya akan lebih baik dan bisa all out”.
Pembenaran dan pertentangan mengenai system kebut semalam ini memang menarik, ada segi positif dan negative dari setiap pembenaran dan pertentangan itu. Namun, sebaik-baiknya mengerjakan SKS yang dapat membuat otak menjadi lebih encer dan mendapatkan ide ide baru, tetap saja tidak akan memberikan kemungkinan untuk all out dalam pengerjaan dan hasilnya tidak teliti.
Begitulah kenyataannya dalam dunia pendidikan di negeri ini, saat dimana negeri ini berjuang menghasilkan mutu pendidikan yang tinggi dan kemampuan peserta didik untuk dapat bersaing sedikit berbanding terbalik melihat kenyataan bahwa dalam hal tanggung jawab pribadi seperti ini saja, masih banyak yang menumpuk dan menganggap akan lebih baik mengerjakan disaat tenggang waktu mendekat. Akan seperti apa negeri ini jika ini menjadi salah satu tolok ukur dari kemajuan dan penentu perkembangan negeri.

Refresi:
Wawancara dengan kawan-kawan J

Jumat, 29 April 2016

Multicultur Indonesia: Mangan Merangkat

Diposting oleh Unknown di 01.31 1 komentar
Keberagaman datang dari sebuah perbedaan. Indonesia merupakan sebuah contoh Negara dengan keberagaman yang begitu besar. Keberagaman budaya, bahasa, ras, suku dan agama. Namun perbedaan itu tidak menjadi halangan bagi sebuah persatuan.
Bukan hanya sekedar dari segi Negara, dilihat dari segi daerah kecil saja, keberagaman itu begitu terlihat. Misalkan saja dari daeran Nusa Tenggara Barat. Ada suku Sasak, Samawa dan Mbojo. Dari sini kita lihat kebudayaan dari segi pernikahan, ketiga suku yang ada di NTB ini memiliki ritual dan tradisi berbeda terkait dengan hal itu.
Dilihat dari ketiga suku ini hanya suku sasak yang melakukan pernikahan dengan cara merari’, atau melarikan anak orang. Dan dari merari’ ini terdapat satu acara unik lainnya, yakni Merangkat.

Rincian Acara
Dalam adat sasak, sebelum adanya acara begawe (acara syukuran), ada yang namanya adat merari. Di daerah Desa Ubung Kecamatan Jonggat, jarang ada yang menikah dengan cara dilamar, tetapi kebanyakan keluarga menginginkan anaknya melakukan adat merari. Karena memang sudah menjadi tradisi turun temurun, meski sudah banyak yang melakukan pernikahan melalui lamaran, tetapi orang Lombok Tengah di Desa Ubung sendiri menginginkan tetap adanya adat merari untuk awal dari sebuah pernikahan.
Merari secara harfiah berarti melarikan, jika dilihat dari tradisi, merari’ merupakan bentuk dari pernikahan dimana calon pengantin/mempelai perempuan dilarikan oleh calon mempelai laki-lakinya, dan dibawa ke rumah sang laki-laki atau bisa juga dibawa ke rumah kerabat dari mempelai laki-laki tersebut. Dalam waktu melarikan anak gadis juga ada waktunya, dimana melarikannya haruslah malam hari, jika dilarikan dari waktu siang atau sore hari, maka akan di denda oleh pihak perempuan melalui  kadus saat dilakukannya selabaran. Sebelum benar-benar merari’, mempelai perempuan haruslah berada di rumah jika memang dia tinggal di tempat lain (kos misalnya), ini sebagai pertanda bahwa dia memang diambil dari keluarganya.
Tradisi adat mangan merangakat memiliki makna syukuran atas datangnya calon pengantin perempuan di rumah calon pengantin laki-laki dalam bentuk mangan (makan-makan). Setelah sampai di rumah mempelai laki-laki, calon mempeli perempuan tidak langsung diberikan masuk ke dalam rumah sang laki-laki, tetapi terlebih dahulu harus mencuci kaki, yang menandakan dia datang dengan bersih ke rumah sang laki-laki. Dan setelah mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, tibalah waktunya keluarga mempelai laki-laki menyebarkan dan memanggil sanak keluarga dan kerabat serta tetang-tetangga untuk datang kerumah untuk ‘mangan merangkat’. Dalam acara ‘mangan merangkat’ ini, keluarga laki-laki mempersiapkan makanan untuk para tamu undangan dan khususnya sebuah aren untuk mempelai perempuan, dimana untuk tamu undangan sendiri makanan yang disajikan berupa ayam dan nasi, lalu khusus untuk mempelai perempuan selain diberikan ayam dan nasi, diberikan pula telur ayam rebus.
Disini perempuan diminta untuk notok telo’ (memecahkan telur) yang menandakan bahwa dia sudah suke mele merari’ (sudah beredia untuk menikah). Jika telur itu belum di pecahkan, berarti mempelai perempuan belum bersedia menikah. Tetapi kebanyakan memang mau untuk notok telo’.
Dalam kegitan merangkat ada istilahnya perkumpulan pemuda. Dimana perkumpulan pemuda ini seperti arisan, jika ada yang merangkat maka para pemuda yang lain akan datang membawa ayam untuk dipotong dan dimasak di malam merangkat tersebut. Sistemnya jika yang satu merangakat yang lain dantang memberi bantuan dan membawa ayam. Lalu jika ada yang merangakat lagi, orang yang sudah didatangi dan di bawakan ayam juga harus datang ke tempat pemuda yang merangakat selanjutnya. Jika ada 20 orang otomatis ada 19 kali datang  merangkat.
Sungguh beragam bentuk dari sebuah kebudayaan, namun dari setiap kebudayaan tentu akan mencerminkan sebuah nilai-nilai, seperti nilai ekonomis, nilai religi (kepercayaan), nilai social dan nilai pendidikan.  Pelestarian nilai-nilai ini bisa dilakukan melalui pendidikan kepada banyak orang melalui pengimplementasian dan pengajaran serta melalui pembinaan dan sosialisasi kepada khalayak banyak. Dalam dunia pendidikan, bisa dilakukan melalui pengajaran muatan local.
Sumber: Wawancara
Wawancara ini dilakukan di rumah anak dari narasumber di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Pada 20 April 2016, pukul 07:35 Pm.
Dimana sebagai narasubernya
Nama                : Selaye
Umur                : 59 Tahun
Tahun Lahir      : lahir tahun 1957
Alamat              : Gubuk Penantang Ai’, Dusun Punimbe, Desa Ubung Kecamatan Jonggat,
                            Kabupaten Lombok tengah.
Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga.


Wawancara dialkukan di rumah penulis sendiri dengan narasumber orang tua dari penulis.
Temapat          : Desa Ubung, Kecamatan Jonggat.
Pukul               : 05.12 Am
Dimana sebagai narasubernya
Nama                : Mayim
Umur                : 54 Tahun
Alamat              : Dusun Baterate, Desa Ubung Kecamatan Jonggat,
                            Kabupaten Lombok tengah.
Pekerjaan          : Ibu Rumah Tangga.


Jumat, 15 April 2016

Bukan Cinta tapi Nafsu? Benarkah?

Diposting oleh Unknown di 00.47 1 komentar



Agama adalah cinta. Sebuah bentuk jamak yang yang dirasakan ketika benar-benar mengenal agama, dan bukan hanya mereka yang beragama tetapi juga mereka yang mengerti apa itu agama.namun, ketika kata cinta berubah menjadi sebuah landasan politik, menjadi penghalal dalam peperangan dan persaingan hanya akan mencoreng arti agama itu sendiri.
Bukan hanya mereka yang muslim. Tetapi juga mereka yang Kristen, Budha, Hindu dan Kongucu. Dalam setiap agama, tak ada agama yang menghalalkan sebuah peperangan, penyiksaan antar kaum, dan penindasan. Tak pernah ditemukan. Yang menghalalkannya hanya lah rasa lapar dan haus akan kebutuhan hidup. Tak pandang bulu bahkan tak pandang siapa.
Melihat dari kejadian akhir-akhir ini, pengeboman serta terror yang disebar dimana-mana, memperlihatkan bahwa ada kesenjangan yang terjadi. Dan dari semua kasus yang terjadi agama dibawa-bawa dan cukup terkena justifikasi oleh sebagian kelompok terhadap kelompok yang lain.
Seperti yang serig dilihat dan ditemukan bahwa ada saja mereka yang mengatakn bahwa golongan yang menggunakan penutup muka adaah mereka yang menyebar terror. Benarkah? Sepertinya tidak. Namun cara pandang itu juga mempengaruhi kehidupan ini.
Dan ketika agama dibawa menjadi sebuah kehalalan dari beberapa kelakuan dan perlakuan, maka disana tidak terdapat cinta dan tidak terdapat kebahagiaan pada jalur itu.
 

Goresan kata © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor