Berbicara
mengenai pendidikan, maka tak akan lepas dari pembelajaran, interaksi antara
guru dan peserta didik, serta tak lepas dari sebuah tugas. Ya, tugas merupakan
salah satu dari pembelajaran, dimana tugas diberikan oleh guru kepada peserta
didik. Pemberian tugas ini diberikan untuk melihat kemampuan kognitif, afektif ataupun
psikomotorik dari peserta didik. Dimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tugas merupakan yg wajib dikerjakan atau yg ditentukan untuk dilakukan;
pekerjaan yg menjadi tanggung jawab seseorang; pekerjaan yg dibebankan. (KBBI
offline1.5)
Dari sini sudah
dapat dilihat bahwa tugas merupakan sebuah tanggung jawab dari peserta didik
jika ditinjau dari pembelajaran. Penugasan ini memang baik untuk meningkatkan
kemampuan dan tanggungjawab dari peserta didik, namun tanggungjawab ini
dikerjakan dengan cara yang sedikit berbeda dari seharusnya.
Dalam
pebelajaran, sebuah penugasan diberikan sesuai dengan tingkatan kelas, semakin
tinggi kelas maka penugasannya akan sedikit semakin sulit. Penugasan dari
tingkat TK sampai dengan jenjang perkuliahan berguna untuk membantu menumbuh
kembangkan kemampuan peserta didik baik tentang bagaimana pengetahuanya dan
rasa tanggungjawab yang dimilikinya jika itu merupakan tugas individu.
Pemberian tugas ini juga ada yang secara kelompok. Di dalam kelompok tugas ini
dibagi kembali, dimana tanggung jawab dan interaksi terjalin melalui diskusi
kelompok.
Dalam
penugasan, pengumpulan tugas diberikan tenggang waktu, mulai dari tenggang
waktu 1 minggu hingga paling lama tergantung dari guru ataupun dosen yang
memberkan tugas. Sehingga dalam pengerjaan tugas yang diberikan sebanyak 6
hari. Jadi tugas dapat dikerjakan d hari mana saja dalam waktu seminggu.
Namun pada
kenyataannya, dalam pemberian tugas dan pengerjaannya, siswa hingga mahasiswa
mengerjakannya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Yah, sering disebut dengan Sistem Kebut Semalam(SKS). Dalam
pengerjaan tugas, seharunya dan sewajarnya pengerjaan tugas dilakukan dengan sungguh-sungguh
dan dalam waktu yang cukup banyak agar mengerjakan secara serius dan total.
Pengerjaan
tugas secara SKS kini menjadi trend, apalagi dilkalangan mahasiswa. Dalam
keseharian, tugas yang diberikan kepada mahasiswa memang selalu ada. Dalam satu
matakuliah, maka disana ada tugas yang diberikan. Memang tidak semua matakuliah
yang memberikan penugasan setiap kali pertemuan, namun ada beberapa matakuliah
dan dosen yang memberikan tugas setiap kali pertemuannya. Sehingga tugas
menjadi menupuk, begitulah yang dikatakan salah seorang mahasiswa.
Dari beberapa
mahasiswa yan sempat dimintai pendapat terkait masalah pengerjaan tugas secara
SKS ada beragam pendapat, ada yang menyetujui dan ada pula yang tidak
menyetujui terkait pengerjaan tugas secara SKS. Sebagian yang menyetujui
pengerjaan tugas secara SKS mengatakan bahwa “bukan karena tidak ada waktu,
namun ada rasa malas”, “kalau jadi duluan, suka dipinjam”, “kebingungan dengan
tugasnya”, ada juga yang berpendapat bahwa “karena entah kenapa otak itu lebih encer kalok kepepet dan makai sistem kebut semalem”, namun lebih banyak yang mengakatakan bahwa
pengerjaan tugas secara SKS itu “memacu adrenalin, jadi otak muter cepet dan
dapat idenya langsung”, :pas mempet, otak jadi kebuka”, “seing banget SKS, serunya dapet, bakalan
muncul ide-ide kreatif untuk menyelesaikan tugas. Urusan salah benar
belakangan. Yang penting usaha kita untuk menyelesaikannya. Kalaupun slah, itu
wajar, karena kita masih sama-sama belajar”.
Begitu beragam
memang tanggapan mereka terkait pembenaran pengerjaan tugas dikerjakan secara
SKS. Namun tak sedikit juga yang tidak membenarkan terkait pengerjaan tugas
secara SKS ini, mereka berpendapat, “itu cirri-ciri orang malas”, “gak mau
tugas jadi numpuk, orang yang SKS itu orang-orang malas dan gak teliti”.
“terlalu menguras tenaga mengerjakan semalaman”, “hasilnya nanti gak memuaskan,
jika mengerjakan secara langsung bukan SKS, hasilnya akan lebih baik dan bisa all out”.
Pembenaran dan
pertentangan mengenai system kebut semalam ini memang menarik, ada segi positif
dan negative dari setiap pembenaran dan pertentangan itu. Namun, sebaik-baiknya
mengerjakan SKS yang dapat membuat otak menjadi lebih encer dan mendapatkan ide
ide baru, tetap saja tidak akan memberikan kemungkinan untuk all out dalam
pengerjaan dan hasilnya tidak teliti.
Begitulah
kenyataannya dalam dunia pendidikan di negeri ini, saat dimana negeri ini berjuang
menghasilkan mutu pendidikan yang tinggi dan kemampuan peserta didik untuk
dapat bersaing sedikit berbanding terbalik melihat kenyataan bahwa dalam hal
tanggung jawab pribadi seperti ini saja, masih banyak yang menumpuk dan
menganggap akan lebih baik mengerjakan disaat tenggang waktu mendekat. Akan
seperti apa negeri ini jika ini menjadi salah satu tolok ukur dari kemajuan dan
penentu perkembangan negeri.
Refresi:
Wawancara dengan
kawan-kawan J
0 komentar:
Posting Komentar