Kebudayaan dan pendidikan, sebuah
kaloborasi yang tak terlepas. Kebudayaan yang melekat dan pendidikan yang
mengembangkannya. Seperti itulah yang bisa tergambarkan ketika melihat bahwa
dalam pembelajaran di sekolah bahka perguruan tinggi. Ketika dalam dunia
sosialpun kebudayaan itu melekat kental.
Ketika banyaknya kebuadayaan luar
yang datang menyisihkan kebudayaan yang ada, disinilah pendidikan turut serta
menjadi sebuah alat untuk terus mengingat dan melestarikan kebudayaan asli daerah
itu. Ketika kata-kata orang dulu menjadi hanya sebuah kata tanpa makna.
Terlepas dari sifat kebudayaan yang memang tidak statis namun dinamis. Tetap
saja kebudayaan asli itu haruslah dilestarikan. Karena negeri yang kaya adalah
negeri yang memiliki kebudayaan yang masih melekat.
Seperti di Indonesia. Negeri yang
memiliki beribu ribu pulau. Dengan kebudayaan yang beragam dan beribu-ribu
pula. Bahasa, merupakan bagian dari kebudayan itu. Dimana negeri ini memiliki
begitu banyak keragaman bahasa.
Di daerah Nusa Tenggara Barat pun
dikenal dengan begitu banyaknya jenis bahasa, di pulau Lombok, Sumbawa, Bahkan
Bima. Bahasa dan dialek yang dimiliki berbeda. Bahkan di pula Lombok sendiri.
Dari setiap daerah memiliki keberagaman dan keuikan bahasa dan dialek yang
berbeda. Khususnya di daerah Kabupaten Lombok Tengah sendiri, dikenal beberapa
bahasa/dialek yang digunakan. Namun, bahasa yang paling sopan untuk digunakan
adalah bahasa Alus. Bahasa yang identik dengan mereka yang berkasta.
Namun, di tahun 2008 ke bawah,
masih melekat muatan local yang berbasis mempelajari bahasa alus. Bahasa yang
paling sopan dari sebuah kebudayaan yang beragam di kabupaten ini. Bahasa yang
dapat dikatakan sebagai bahasa yang penting. Mengingat jika berbicara dengan
mereka yang berkasta, haruslah menguasai bahasa ini pula untuk dapat
berkomunikasi. Serta jika berkata dan berbicara kepada mereka yang lebih tua,
maka bahasa ini merupakan bahasa yang paling baik untuk bertutur kata.
Bukan terletak pada sakralnya
bahasa ini dalam penggunaannya, namun lebih kepada kebermanfaatannya serta esensi
yang dimilikinya. Dimana bahasa ini menjadi sebuah bentuk dari kebudayaan yang
ada. Bahasa yang mengajarkan setiap anak untuk bertutur kata dengan baik, dan
jika berbicara dengan mereka yang lebih tua, akan menambah rasa hormat karena
menjawab perkataan mereka dengan bahasa yang dianggp sopan oleh orang di daerah
Lombok Tengah.
Sehingga penting bagi pembelajaran
kepada anak-anak, dimana bahasa dan tutur kata ini akan mengajarkan mereka
kepada bertutur kata yang sopan dan santun dalam berkomunikasi. Namun sayang, muatan
local yang ada saat ini sedikit berbeda dari tahun 2008-an. Pembelajaran yang
seharusnya muatan local tentang kedaerahan berubah menjadi muatan local keluar
negeri-an.
Dikatakan demikian, mengingat bahwa
muatan local itu berisi muatan local Inggris, muatan local bahasa Jepang,
bahasa Prancis, dan bahasa yang lainnya. Begitu yang ada ditahun setelah tahun
2008, tepatnya pada tahun 2009 hingga saat ini bisa dikatakan bahawa muatan
local yang seharusnya berbasis daerah sedikit berubah.
Pendidikan dan kebudayaan memang
tak dapat terpisahkan. Dimana pendidikan memiliki andil besar dalam membantu
pelestarian kebudayaan. Negeri dengan kebudayaan yang kaya adalah negeri yang
hebat, yang mampu mempertahankan nilai-nilai yang begitu esensial yang
diturunkan dari setiap generasi ke generasi yang ada. Negeri yang
mempertahankan kebudayaannya ditengah moderenitas yang begitu kuat mempengaruhi
setiap sudut dari kebudayaan yang ada. Meski ada modrenisme, kebudayaan asli
itu perlu diketahui dengan pendidikan serta pengenalan secara nyata untuk
mereka, anak negeri ini.
Mereka, anak negeri yang akan
menjadi agen perubahan dan agen control social, yang akan merubah negeri ini
kedepannya. Terlepas dari apakah mereka akan membawa kepada kehidupan modern
atau menerapkan modrenisme itu.
0 komentar:
Posting Komentar