Kamis, 07 April 2016

Kebudayaan: Bahasa Alus

Diposting oleh Unknown di 20.48


Kebudayaan dan pendidikan, sebuah kaloborasi yang tak terlepas. Kebudayaan yang melekat dan pendidikan yang mengembangkannya. Seperti itulah yang bisa tergambarkan ketika melihat bahwa dalam pembelajaran di sekolah bahka perguruan tinggi. Ketika dalam dunia sosialpun kebudayaan itu melekat kental.
Ketika banyaknya kebuadayaan luar yang datang menyisihkan kebudayaan yang ada, disinilah pendidikan turut serta menjadi sebuah alat untuk terus mengingat dan melestarikan kebudayaan asli daerah itu. Ketika kata-kata orang dulu menjadi hanya sebuah kata tanpa makna. Terlepas dari sifat kebudayaan yang memang tidak statis namun dinamis. Tetap saja kebudayaan asli itu haruslah dilestarikan. Karena negeri yang kaya adalah negeri yang memiliki kebudayaan yang masih melekat.
Seperti di Indonesia. Negeri yang memiliki beribu ribu pulau. Dengan kebudayaan yang beragam dan beribu-ribu pula. Bahasa, merupakan bagian dari kebudayan itu. Dimana negeri ini memiliki begitu banyak keragaman bahasa.
Di daerah Nusa Tenggara Barat pun dikenal dengan begitu banyaknya jenis bahasa, di pulau Lombok, Sumbawa, Bahkan Bima. Bahasa dan dialek yang dimiliki berbeda. Bahkan di pula Lombok sendiri. Dari setiap daerah memiliki keberagaman dan keuikan bahasa dan dialek yang berbeda. Khususnya di daerah Kabupaten Lombok Tengah sendiri, dikenal beberapa bahasa/dialek yang digunakan. Namun, bahasa yang paling sopan untuk digunakan adalah bahasa Alus. Bahasa yang identik dengan mereka yang berkasta.
Namun, di tahun 2008 ke bawah, masih melekat muatan local yang berbasis mempelajari bahasa alus. Bahasa yang paling sopan dari sebuah kebudayaan yang beragam di kabupaten ini. Bahasa yang dapat dikatakan sebagai bahasa yang penting. Mengingat jika berbicara dengan mereka yang berkasta, haruslah menguasai bahasa ini pula untuk dapat berkomunikasi. Serta jika berkata dan berbicara kepada mereka yang lebih tua, maka bahasa ini merupakan bahasa yang paling baik untuk bertutur kata.
Bukan terletak pada sakralnya bahasa ini dalam penggunaannya, namun lebih kepada kebermanfaatannya serta esensi yang dimilikinya. Dimana bahasa ini menjadi sebuah bentuk dari kebudayaan yang ada. Bahasa yang mengajarkan setiap anak untuk bertutur kata dengan baik, dan jika berbicara dengan mereka yang lebih tua, akan menambah rasa hormat karena menjawab perkataan mereka dengan bahasa yang dianggp sopan oleh orang di daerah Lombok Tengah.
Sehingga penting bagi pembelajaran kepada anak-anak, dimana bahasa dan tutur kata ini akan mengajarkan mereka kepada bertutur kata yang sopan dan santun dalam berkomunikasi. Namun sayang, muatan local yang ada saat ini sedikit berbeda dari tahun 2008-an. Pembelajaran yang seharusnya muatan local tentang kedaerahan berubah menjadi muatan local keluar negeri-an.
Dikatakan demikian, mengingat bahwa muatan local itu berisi muatan local Inggris, muatan local bahasa Jepang, bahasa Prancis, dan bahasa yang lainnya. Begitu yang ada ditahun setelah tahun 2008, tepatnya pada tahun 2009 hingga saat ini bisa dikatakan bahawa muatan local yang seharusnya berbasis daerah sedikit berubah.
Pendidikan dan kebudayaan memang tak dapat terpisahkan. Dimana pendidikan memiliki andil besar dalam membantu pelestarian kebudayaan. Negeri dengan kebudayaan yang kaya adalah negeri yang hebat, yang mampu mempertahankan nilai-nilai yang begitu esensial yang diturunkan dari setiap generasi ke generasi yang ada. Negeri yang mempertahankan kebudayaannya ditengah moderenitas yang begitu kuat mempengaruhi setiap sudut dari kebudayaan yang ada. Meski ada modrenisme, kebudayaan asli itu perlu diketahui dengan pendidikan serta pengenalan secara nyata untuk mereka, anak negeri ini.
Mereka, anak negeri yang akan menjadi agen perubahan dan agen control social, yang akan merubah negeri ini kedepannya. Terlepas dari apakah mereka akan membawa kepada kehidupan modern atau menerapkan modrenisme itu.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Goresan kata © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor